Jumat, 02 Oktober 2020

Contoh Proposal Pembelian bahan baku

 

 

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kepada Tuhan yang maha Kuasa. Berkat bimbingan, pertolongan, dan nikmat yang diberikan-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas dengan judul “Prosedur Persediaan Bahan Baku pada PT. SINAR LENDOH TERANG”.

Adapun makalah ini kami susun sebagai salah satu tugas dalam mengikuti perkuliahan ini dan juga sebagai bentuk nyata akan harapan Dosen yang menginginkan agar kami menjadi Mahasiswa yang kreatif dan kritis, Mahasiswa yang mampu menjawab dan menghadapi tantangan kemajuan zaman.

            Kami dengan setulus hati mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada semua pihak, khususnya kepada Dosen dan semua teman-teman atas bantuan dan dukungan yang telah diberikan kepada kami dalam pembuatan tugas ini sampai selesai.  Mudah-mudahan makalah ini bermanfaat kepada kami khususnya dan kepada semua para pembaca pada umumnya.

            Meskipun kami telah sukses dan selesai dalam membuat makalah ini, kami menyadari bahwa makalah ini masih belum sempurna dan belum sesuai dengan harapan Dosen, dimana dibeberapa bagian masih terdapat kekurangan.  Hal ini disebabkan keterbatasan kemampuan dan pengetahuan kami.  Maka dari itu kami dengan senang hati mengharap kritik dan saran yang bersifat konstruktif dari semua pihak guna perbaikan dari kekurangan yang ada.

Bekasi, 24 September 2020

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1   Latar Belakang Masalah

Dalam suatu perusahaan persediaan mempunyai arti penting karena akan mempengaruhi tingkat produksi maupun penjualan. Persediaan barang dagang untuk perusahaan dagang adalah persediaan barang yang akan dijual kembali tanpa mengubah bentuk barang tersebut sedang persediaan dalam perusahaan manufaktur dibagi menjadi tiga yaitu persediaan bahan baku, persediaan barang dalam proses, persediaan barang jadi. Persediaan bahan baku adalah barang-barang yang diperoleh dalam keadaan harus dikembangkan yang akan menjadi bagian utama dari barang jadi atau barang-barang berwujud yang diperoleh untuk penggunaan langsung dalam proses produksi sedang persediaan barang dalam proses meliputi produk-produk yang telah mulai dimasukkan dalam proses produksi, namun belum selesai diolah sedangkan persediaan barang jadi meliputi produk-produk olahan yang siap untuk dijual kepada para konsumen.

Setiap perusahaan, apakah itu perusahaan dagang ataupun manufaktur selalu mengadakan persediaan, tanpa adanya persediaan yang optimal para pengusaha akan dihadapkan pada resiko bahwa perusahaannya pada suatu waktu tidak dapat memenuhi keinginan konsumen yang memerlukan atau meminta produk yang dihasilkan. Hal ini mungkin terjadi, karena tidak selamanya produk-produk tersedia pada setiap saat yang berarti pula bahwa pengusaha akan



 

kehilangan kesempatan memperoleh keuntungan yang seharusnya didapatkan. Perusahaan sebaiknya selalu menyediakan bahan baku yang akan diolah untuk proses produksinya agar tidak menghambat kelancaran usaha.

Persediaan merupakan bagian utama dari modal kerja yang merupakan aktiva yang pada setiap saat mengalami perubahan. Semakin tinggi tingkat perputarannya atau semakin cepat perputaranya berarti makin pendek tingkat dana dalam persediaan sehingga dibutuhkan dana yang relatif kecil. Sebaliknya semakin rendah tingkat perputaran atau semakin lambat perputaranya berarti semakin panjang terikatnya dana dalam persediaan. Dalam hal ini juga akan berpengaruh pemenuhan dana berasal dari luar perusahaan yang harus menanggung biaya bunga dan besarnya bunga akan ditentukan lama pendeknya pengembalian pinjaman (Indriyo Gitosudarmo, 2002: 93).

Pada perusahaan manufaktur, masalah yang sering dihadapi adalah masalah kelancaran proses produksi berupa penangganan persediaan bahan baku yang tepat agar tidak terjadi kelebihan serta kekurangan bahan baku, perusahaan harus dapat mengelola persediaan yang dimiliki sebaik mungkin sesuai dengan kebijakan-kebijakan manajemen perusahaan.Untuk menjamin agar pengelolaan persediaan sesuai dengan kebijakan manajemen perusahaan, maka dibutuhkan suatu sistem yang manpu menjamin tercapainya tujuan perusahaan. Salah satu sistem tersebut adalah sistem akuntansi persediaan bahan baku pada perusahaan itu sendiri.



 

PT Sinar Lendoh Terang merupakan perusahaan yang memproduksi berbagai macam kerajinan yang terbuat dari kuningan, produk perusahaan ini berupa hiasan dinding yang berbentuk relief yang mengambarkan berbagai keadaan ataupun kaligrafi arab. Dalam pengadaan persediaan PT Sinar Lendoh Terang mempunyai beberapa tipe persediaan yaitu persediaan produk jadi, persediaan produk dalam proses, persediaan bahan baku, persediaan bahan penolong, persediaan bahan habis pakai pabrik. PT Sinar Lendoh Terang menggunakan sistem dalam menjalankan operasi perusahaanya, tujuan diterapkannya sistem adalah agar tujuan perusahaan tercapai yaitu mencapai tingkat laba yang diinginkan.Sedangkan tujuan dari sistem persediaan bahan baku adalah agar proses terselenggarakanya persediaan bahan baku berjalan dengan lancar karena dengan penerapan sistem persediaan bahan baku maka perusahaan akan mendapat manfaat yang besar. Manfaat sistem persediaan bahan baku antara lain jalannya penyelenggaraan persediaan bahan baku akan menjadi teratur, adanya bagian yang bertanggung jawab untuk masing-masing bagian.

Dari uraian di atas, maka penulis ingin mengadakan penelitian dengan judul “PROSEDUR PERSEDIAAN BAHAN BAKU PADA PT SINAR LENDOH TERANG”

 

1.2  Rumusan Masalah

Setiap perusahaan akan selalu berusaha untuk menyediakan persediaan yang cukup, terutama bahan baku bagi perusahaan manufaktur untuk menghindari situasi kehabisan persediaan yang dapat mengakibatkan berkurangnya produksi dan penjualan. Dari berbagai tipe persediaan yang ada pada PT Sinar Lendoh Terang yaitu persediaan produk jadi, persediaan produk dalam proses, persediaan bahan baku, persediaan bahan penolong, persediaan bahan habis pakai pabrik maka dalam penulisan ini akan dibahas sistem persediaan bahan baku pada PT Sinar Lendoh Terang.Adapun permasalahan yang akan dibahas meliputi:

1.      Metode pencatatan persediaan bahan baku pada PT. Sinar Lendoh Terang

 

2.      Bagaimana prosedur yang membentuk sistem persediaan bahan baku pada PT. Sinar Lendoh Terang

 

3.      Bagaimana pengendalian intern yang terdapat dalam sistem persediaan bahan baku pada PT. Sinar Lendoh Terang

 

1.3  Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah yang akan dibahas, maka penelitian ini mempunyai beberapa tujuan yaitu:

A.    Untuk mengetahui metode pencatatan persediaan bahan baku pada PT. Sinar Lendoh Terang

B.     Untuk mengetahui jaringan prosedur yang membentuk sistem persediaan bahan baku pada PT Sinar Lendoh Terang

C.     Untuk mengetahui unsur pengendalian intern yang terdapat dalam sistem persediaan bahan baku pada PT. Sinar Lendoh Terang

 

1.4  Manfaat Penelitian

Adapun  manfaat  dari  penelitian  dapat  memberikan  suatu  informasi  bagi  pihak-pihak yang terkait yaitu sebagai berikut :

1.5.1 Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat menambah dan memperluas pengetahuan mengenai sistem persediaan bahan baku pada PT Sinar Lendoh Terang

1.5.2        Manfaat Praktis

A.    Bagi Perusahaan Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi informasi yang dapat digunakan oleh PT. Sinar Lendoh Terang dalam melaksanakan kegiatan yang berhubungan dengan persediaan bahan baku.

B.     Bagi Penulis Hasil   Penelitian   ini   diharapkan   dapat   menambah   wawasan   dan   pengetahuan   dengan   melihat   praktik   sebenarnya   yang   terjadi   di   lapangan    serta    belajar    memecahkan    masalah    khususnya    yang    berhubungan   dengan   alur   informasi   yang   dapat   meningkatkan   produktivitas.

C.     Bagi Perguruan Tinggi Hasil  penelitian  ini  diharapkan  dapat  dipergunakan  sebagai  bahan  referensi  dan  dasar  penelitian  sejenis  yang  dapat  dikembangkan  lebih  luas yang diterapkan pada perguruan tinggi di masa mendatang.

D.    Bagi pihak lain Hasil  Penelitian  ini  diharapkan  dapat  menambah  pengetahuin  bagi  pihak  lain  tentang  kinerja  perusahaan  dan  dapat  menambah  wawasan  bagi pembaca.

 

1.6      Sistematika Penulisan

Sebelum   membahas   materi   ini   lebih   dalam,   maka   penulis   ingin   memberitahukan  pentingnya  mengemukakan  sistematika  pembahasan  ini  dengan  maksud  agar  membantu  para  pembaca  untuk  mempermudah  pemahaman  materi  pembahasan  secara  garis  besarnya  untuk  penyusunan  tugas  akhir  mengenai  hal-hal  yang  akan  dibahas  dalam  penelitian  ini,  maka  sistematika  penulisan  akan  diuraikan  dalam  enam  bab.  Adapun  sistematika  penulisan adalah sebagai berikut :

 

BAB I  : PENDAHULUAN

Dalam  bab  ini  penulis  menerangkan  mengenai  latar  belakang  masalah   dari   penelitian   yang   akan   menjadi   dasar dalam   perumusan  masalah,  tujuan  penelitian  dan  manfaat  penelitian  serta sistematika penulisan.

BAB II : LANDASAN TEORI

Merupakan  bab  yang  berisi  uraian  secara  ringkas  teori-teori  yang  menjelaskan  tentang  permasalahan  yang  akan  diteliti.  Teori  atas  variabel-variabel  yang  terdapat  dalam  penelitian  ini  akan dijabarkan dalam bentuk definisi-definisi yang bersumber dari beberapa buku serta dari hasil penelitian sebelumnya.

BAB III : METODOLOGI PENELITIAN

Merupakan  bab  yang  berisi  penjelasan  secara  rinci  mengenai  semua  unsur  metode  penelitian  ini,  yaitu  penjelasan  mengenai  lokasi  penelitian,  jenis  dan  sumber  data,  metode  pengumpulan  data,   identifikasi   variabel   penelitian,   definisi   operasional   variabel serta teknis  analisis data.

BAB IV : GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

Pada   bab   ini   menerangkan   mengenai   gambaran   umum   perusahaan  yang  meliputi  profil  perusahaan,  sejarah  singkat  perusahaan serta visi dan misi perusahaan.

BAB V : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Bab  ini  merinci  seluruh  proses  penelitiandan  hasil  penelitian  serta    pembahasan    mengenai    penerapan    good    corporate    governance terhadap efektivitas prosedur pembelian.

BAB VI : KESIMPULAN DAN SARAN

Bab  ini  merupakan  penutup  dari  keseluruhan  pokok  bahasan  yang  berisi  kesimpulan  dari  hasil  keseluruhan  penelitian  yang  telah  dilakukan,  keterbatasan  yang  ada  dalam  penelitian,  dan  saran-saran  perbaikan  yang  diharapkan  dapat  bermanfaat  bagi  penelitian selanjutnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

 

2.1  Pengertian Prosedur

Pada  era  informasi  dan  globalisasi  menyebabkan  lingkungan  bisnis mengalami  perubahan  yang  sangat  pesat  dengan  tingkat  persaingan  yang ketat. Oleh karena itu, perusahaan dituntut untuk melaksanakan sistem dan prosedur      kegiatan   yang   efektif   dan   efisien   untuk   mempertahankan eksistensinya.  Berikut  ini  adalah  beberapa  pengertian  dari    sistem  dan prosedur :

Menurut   Cole   dalam   Baridwan   (1990:   3),   sistem   adalah   suatu kerangka  dari  prosedur-prosedur  yang  saling  berhubungan  yang  disusun sesuai  dengan  suatu  skema  yang  menyeluruh,  untuk  melaksanakan  suatu kegiatan atau fungsi utama dari perusahaan.

Menurut  Mulyadi  (2001:  5),  sistem  adalah  suatu  jaringan  prosedur yang  dibuat  menurut  pola  yang  terpadu  untuk  melaksanakan  kegiatan pokok perusahaan. 

Prosedur  adalah  suatu urutan kegiatan klerikal,  biasanya  melibatkan beberapa  orang  dalam  satu  departemen  atau  lebih,  yang  dibuat  untuk menjamin  penanganan  secara  seragam  transaksi  perusahaan  yang  terjadi berulang-ulang (Mulyadi, 2001: 5).

Menurut Gillespie 1971 dalam Baridwan (1990:  3), prosedur  adalah urut-urutan  pekerjaan  yang  klerikal,  yang  biasanya  melibatkan  beberapa orang  dalam  satu  bagian  atau  lebih,  disusun  untuk  menjamin  adanya transaksi-transaksi yang sering terjadi di perusahaan. Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa suatu sistem terdiri dari  jaringan  prosedur,  sedangkan  prosedur  merupakan  urutan  kegiatan klerikal. Kegiatan klerikal (klerikal operation) terdiri dari kegiatan berikut ini  yang  dilakukan  untuk  mencari  informasi  dalam  formulir,  buku  jurnal, dan buku besar:

1.      Menulis

2.      Menggandakan

3.      Menghitung

4.      Memberi kode

5.      Mendaftar

6.      Memilih

7.      Memindah

8.      Membandingkan.

 

2.2  Pengertian Persediaan

Pengertian persediaan adalah aktiva yang dimiliki oleh suatu perusahaan yang tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha normal, dalam proses produksi atau dalam perjalanan, dalam bentuk bahan baku atau keperluan untuk dipakai dalam proses produksi atau penyerahan jasa (Henry Simamora, 2000:266)

Persediaan adalah nama yang diberikan untuk barang-barang baik yang dibuat atau dibeli untuk dijual kembali dalam bisnis normal (K. Fred Skousen dkk, 2001:360)

Persediaan merupakan bagian utama dari modal kerja, merupakan aktiva yang pada setiap saat mengalami perubahan (Indiro Gitosudarmo, 2002:931)



 

Persediaan adalah barang-barang yang dimiliki untuk dijual kembali atau digunakan untuk memproduksi barang-barang yang akan dijual (Zaki Baridwan, 2000:149)

Dari definisi tersebut persediaan dapat diartikan sebagai suatu unsur dalam perusahaan yang tersedia untuk digunakan dalam proses produksi, maupun untuk dijual kembali dan pada setiap saat mengalami perubahan

Menurut Zaki Baridwan (2000:150) jenis persediaan yang ada dalam perusahaan manufaktur adalah:

1.   Persediaan bahan baku dan bahan penolong

Bahan baku adalah barang-barang yang akan menjadi bagian dari produk jadi yang dengan mudah dapat diikuti biayanya, sedangkan bahan penolong adalah barang-barang yang juga menjadi bagian dari produk jadi tetapi jumlahnya kecil atau sulit diikuti biayanya

2.   Supplies pabrik

Supplies pabrik adalah barang-barang yang mempunyai fungsi melancarkan proses produksi misalnya oli mesin, bahan pembersih mesin.

3.   Barang dalam proses

Barang dalam proses adalah barang-barang yang sedang dikerjakan (diproses) tetapi pada tanggal neraca barang-barang tadi belum selesai dikerjakan. Untuk dapat dijual masih diperlukan pengerjaan lebih lanjut.


 

4.   Produk selesai

Produk selesai adalah barang-barang yang sudah selesai dikerjakan dalam proses produksi dan menunggu saat penjualan

 

 

 

2.3  Metode Pencatatan Persediaan

1.      Metode mutasi persediaan (metode perpetual)

Dalam metode mutasi persediaan, setiap mutasi persediaan dicatat dalam kartu persediaan (Mulyadi, 2001:556).

Sistem perpetual, dimana persediaan barang dagangan ditentukan dengan membuat catatan yang berkelanjutan perihal kenaikan, penurunan, dan saldo persediaan barang dagangan. Setiap kali barang dagangan dibeli, rekening persediaan meningkat, setiap kali barang dagangan dijual, rekening persediaan menurun. Sistem persediaan perpetual disebut juga dengan sistem persediaan buku (Henry Simamora, 2000: 271).

2.       Metode Persediaan Fisik

Dalam metode persediaan fisik, hanya tambahan persediaan dari pembelian saja yang dicatat, sedangkan mutasi berkurangnya persediaan karena pemakaian tidak dicatat dalam kartu persediaan (Mulyadi, 2001:556).

Sistem periodik, di mana persediaan barang dagangan ditentukan dengan menghitung, menimbang, atau mengukur unsur-unsur persediaan yang ada digudang. Sistem periodik menyesuaikan saldo persediaan hanya pada akhir periode akuntansi. Rekening persediaan tidak terpengaruh oleh pembelian maupun penjualan persediaan selama periode berjalan. Sistem periodik disebut juga dengan sistem persediaan fisik (Henry Simamora, 2000:271)


2.4  Metode Penetuan Harga atau Biaya Pokok Persediaan

a.        Metode Masuk Pertama Keluar Pertama (FIFO)

Harga pokok persediaan akan dibebankan sesuai dengan urutan terjadinya. Apabila ada penjualan atau pemakaian barang-barang maka harga pokok yang dibebankan adalah harga pokok yang paling terdahulu, disusul yang masuk berikutnya. Persediaan akhir dibebani harga pokok terakhir.

b.      Metode masuk Terakhir Keluar Pertama (LIFO)

Barang-barang yang dikeluarkan dari gudang akan dibebani dengan harga pokok pembelian yang terakhir disusul dengan yang masuk sebelumnya. Persediaan akhir dihargai dengan harga pokok pembelian yang pertama dan berikutnya.

c.        Rata-rata Tertimbang

Dalam metode ini, barang-barang yang dipakai untuk produksi atau penjualan akan dibebani harga pokok rata-rata. Perhitungan harga pokok rata-rata dilakukan dengan cara membagi jumlah harga perolehan dengan kuantitasnya.

d.       Metode Identifikasi Khusus

Metode identifikasi khusus didasarkan pada anggapan bahwa arus barang harus sama dengan arus biayanya. Untuk itu perlu dipisahkan tiap-tiap jenis barang berdasarkan harga pokoknya dan untuk masing-masing kelompok


dibuatkan kartu persediaan sendiri, sehingga masing-masing harga pokok bisa diketahui. Harga pokok penjualan terdiri dari harga pokok barang-barang yang dijual dan sisanya merupakan persediaan akhir.


2.5  Prosedur yang membentuk sistem

Jaringan prosedur yang bersangkutan dengan sistem persediaan bahan baku adalah :

1.      Prosedur pencatatan harga pokok persediaan yang dibeli Dalam prosedur ini dicatat harga pokok persediaan yang dibeli. Dokumen yang digunakan

a.      Laporan penerimaan barang

Laporan penerimaan barang digunakan oleh bagian gudang sebagai dasar pencatatan tambahan kuantitas barang dari pembelian kedalam kartu gudang

b.      Bukti kas keluar

Bukti kas keluar yang dilampiri dengan laporan penerimaan barang, surat order pembelian, dan faktur dari pemasok dipakai sebagai dokumen sumber dalam pencatatan harga pokok persediaan yang dibeli dalam register bukti kas keluar, bukti kas keluar juga dipakai sebagai dasar pencatatan tambahan kuantitas dan harga pokok persediaan kedalam kartu persedian


 

2.      Prosedur pencatatan harga pokok persediaan yang dikembalikan kepada pemasok

Jika persediaan yang telah dibeli dikembalikan kepada pemasok, maka akan mengurangi jumlah persediaan dalam kartu gudang yang diselenggarakan oleh bagian gudang dan harga pokok persediaan yang dicatat oleh bagian kartu persediaan dalam kartu persediaan yang bersangkutan .

Dokumen yang digunakan

a.      Laporan pengiriman barang

Digunakan oleh bagian gudang untuk mencatat jumlah persediaan yang dikirimkam kembali kepada pemasok kedalam kartu gudang

b.      Memo debit yang diterima dari bagian pembelian

Digunakan oleh bagian kartu persediaan untuk mencatat jumlah dan harga pokok persediaan yang dikembalikan kepada pemasok kedalam kartu gudang

3.        Prosedur permintaan dan pengeluaran barang gudang

Dalam prosedur ini dicatat harga pokok persediaan bahan baku, bahan penolong, bahan habis pakai pabrik, yang dipakai dalam kegiatan produksi dan kegiatan non produksi.

Dokumen yang digunakan

·         Bukti permintaan dan pengeluaran barang gudang

Bukti ini digunakan oleh bagian gudang untuk mencatat pengurangan persediaan karena pemakaian intern, digunakan juga oleh bagian kartu


persediaan untuk mencatat berkurangnya jumlah dan harga pokok persediaan, digunakan juga sebagai dokumen sumber dalam pencatatan pemakaian persediaan kedalam jurnal pemakaian bahan baku atau jurnal umum.

4.        Prosedur pengembalian barang gudang

Pengembalian barang gudang akan mengurangi biaya dan menambah persediaan barang di gudang.

Dokumen yang digunakan

·         Bukti pengembalian barang gudang

Bukti ini digunakan oleh bagian gudang untuk mencatat tambahan jumlah persediaan kedalam kartu gudang, digunakan juga oleh bagian kartu persedian untuk mencatat tambahan jumlah dan harga pokok persediaan kedalam kartu persediaan, untuk mencatat berkurangnya biaya kedalam kartu biaya dan untuk mencatat pengembalian barang gudang tersebut kedalam jurnal umum.

5.        Perhitungan fisik persediaan

Sistem penghitungan fisik persediaan umumnya digunakan oleh perusahaan untuk menghitung secara fisik persediaan yang disimpan di gudang, yang hasilnya digunakan untuk meminta pertanggung jawaban bagian gudang mengenai pelaksanaan fungsi penyimpanan, dan pertanggung jawaban bagian kartu persediaan mengenai keandalan catatan persediaan yang diselenggarakan, serta untuk melakukan penyesuaian terhadap catatan persediaan di bagian kartu persediaan.

Dokumen yang digunakan dalam sistem perhitungan fisik persediaan

a.           Kartu penghitungan fisik

Digunakan untuk merekam hasil perhitungan fisik persediaan. Dalam Penghitungan fisik persediaan, setiap jenis persediaan dihitung dua kali secara independen oleh penghitung dan pengecek.

b.          Daftar hasil penghitungan fisik

Digunakan untuk meringkas data yang telah direkam dalam bagian kartu persediaan fisik yang diisi oleh pengecek.Data yang disalin kedaftar ini adalah: nomer kartu persediaan fisik, nomer kode persediaan, nama persediaan, kuantitas dan satuan.

c.           Bukti memorial

Digunakan untuk membukukan penyesuaian rekening persediaan sebagai akibat dari hasil penghitungan fisik kedalam jurnal umum.

Data yang digunakan sebagai dasar pembuatan bukti memorial adalah selisih jumlah harga pokok total dalam daftar hasil penghitungan fisik dengan saldo harga pokok persediaan yang bersangkutan menurut kartu persediaan.


Catatan akuntansi yang digunakan dalam sistem penghitungan fisik a.  Kartu persediaan

Digunakan untuk mencatat penyesuaian terhadap data (jumlah dan harga pokok total) yang tercantum dalam kartu persediaan oleh bagian kartu persediaan berdasar hasil penghitungan fisik persediaan.

b. Kartu gudang

Digunakan untuk mencatat penyesuaian terhadap data persediaan (jumlah) yang tercantum dalam kartu gudang yang diselenggarakan oleh bagian gudang berdasarkan hasil penghitungan fisik persediaan

c.      Jurnal umum

Digunakan untuk mencatat jurnal penyesuaian rekening persrdiaan karena adanya perbedaan antara saldo yang dicatat dalam rekening persediaan dengan saldo menurut perhitungan fisik

Fungsi yang terkait dengan sistem penghitungan fisik

a.      Panitia penghitungan fisik persediaan Panitia ini terdiri dari:

 

         Pemegang kartu penghitungan fisik yang bertugas untuk menyimpan dan mendistribusikan kartu penghitungan fisik kepada para penghitung, melaksanakan perbandingan hasil penghitungan fisik persediaan yang telah dilaksanakan oleh penghitung dan pengecek, mencatat hasil penghitungan fisik persediaan dalam daftar hasil penghitungan fisik.

         Penghitung yang bertugas melaksanakan penghitungan pertama terhadap persediaan dan mencatat hasil penghitungan tersebut kedalam bagian ketiga kartu penghitungan fisik dan menyobeknya untuk diserahkan kepada pemegang kartu penghitungan fisik.

         Pengecek bertugas untuk melaksanakan penghitungan kedua terhadap persediaan yang telah dihitung oleh penghitung dan mencatatnya dalam bagian kedua kartu persediaan fisik serta menyobeknya untuk diserahkan pada pemegang kartu penghitungan fisik

b.          Fungsi akutansi

Fungsi ini bertanggung jawab mencantumkan harga pokok satuan persediaan yang dihitung kedalam daftar hasil penghitungan fisik, mengkalikan kuantitas dan harga pokok per satuan yang tercantum dalam daftar hasil penghitungan fisik, mencantumkan harga pokok total dalam daftar hasil penghitungan fisik, melaksanakan penyesuaian terhadap kartu persediaan berdasar data hasil penghitungan fisik persediaan, membuat bukti memorial untuk mencatat penyesuaian data persediaan dalam jurnal umum berdasar hasil penghitungan fisik persediaan.

c.           Fungsi gudang

Bertanggung jawab untuk melaksanakan penyesuaian data jumlah persediaan yang dicatat dalam kartu gudang berdasar hasil penghitungan fisik persediaan.


Jaringan prosedur yang membentuk sistem penghitungan fisik persediaan

1.      Prosedur penghitungan fisik

Dalam prosedur ini tiap jenis persediaan di gudang dihitung oleh penghitung dan pengecek secara independen yang hasilnya dicatat dalam kartu penghitungan fisik

2.      Prosedur kompilasi

Dalam prosedur ini pemegang kartu penghitungan fisik melakukan perbandingan data yang dicatat dalam bagian ketiga dan bagian kedua kartu penghitungan fisik serta melakukan pencatatan data yang tercantum dalam bagian kedua kartu penghitungan fisik ke dalam daftar penghitungan fisik

3.      Prosedur penentuan harga pokok persediaan

Dalam prosedur ini bagian kartu persediaan mengisi harga pokok per satuan tiap jenis persediaan yang tercantum dalam daftar penghitungan fisik berdasarkan informasi dalam kartu persediaan yang bersangkutan serta mengalikan harga pokok persatuan tersebut dengan kuantitas hasil penghitungan fisik untuk mendapatkan total harga pokok persediaan yang dihitung.

4.      Prosedur penyesuaian

Dalam prosedur ini bagian kartu persediaan melakukan penyesuaian terhadap data persediaan yang tercantum dalam kartu persediaan berdasarkan data hasil perhitungan fisik persediaan yang tercantum dalam


daftar hasil penghitungan fisik persediaan. Dalam prosedur ini pula bagian gudang melakukan penyesuaian terhadap data kuantitas persediaan yang tercatat dalam kartu gudang.

Unsur pengendalian intern

Dalam sistem penghitungan fisik persediaan unsur pengendalian intern digolongkan menjadi:

1.      Organisasi

1.      Penghitungan fisik persediaan dilaksanakan oleh panitia penghitungan fisik persediaan

2.      Panitia yang dibentuk anggotanya selain karyawan fungsi gudang dan akutansi

2.      Sistem otorisasi dan prosedur pencatatan

1.      Daftar hasil penghitungan fisik ditandatangani oleh ketua panitia penghitungan fisik persediaan

2.      Mencatat hasil penghitungan fisik didasarkan atas kartu penghitungan fisik yang telah diteliti kebenarannya oleh pemegang kartu penghitungan fisik

3.      Harga satuan yang tercantum dalam daftar hasil penghitungan fisik berasal dari kartu persediaan yang bersangkutan.

4.      Penyesuaian terhadap kartu persediaan didasarkan pada informasi (jumlah maupun harga pokok total) tiap jenis persediaan yang tercantum dalam daftar penghitungan fisik.


 


3.      Praktik yang sehat

a.       Kartu penghitungan fisik benomer urut tercetak dan penggunaanya dipertanggung jawabkan oleh fungsi pemegang kartu penghitungan fisik

b.      Penghitungan fisik tiap jenis persediaan dilaksanakan dua kali secara independen

c.       Jumlah dan data persediaan yang lain yang tercantum dalam kartu perhitungan fisik bagian tiga dan dua dicocokkan oleh fungsi pemegang kartu penghitungan fisik sebalum data yang tercantum dalam bagian dua kartu penghitungan fisik dicatat dalam daftar hasil penghitungan fisik

d.      Peralatan dan metode yang digunakan untuk mengukur dan menghitung jumlah persediaan harus dijamin ketelitiannya.

 


 

 

2.6  Pengendalian intern atas persediaan

Menurut Henry Simamora (2000:288), tujuan pengendalian internal atas persediaan adalah untuk memastikan bahwa persediaan diamankan dan dilaporkan secara benar dalam laporan keuangan.Pengendalian internal ini dapat bersifat preventif maupun detektif, Pengendalian preventif dirancang untuk mencegah terjadi kesalahan sedang pengendalian detektif dirancang untuk mendeteksi setiap kesalahan setelah terjadi


Pengendalian atas persediaan haruslah bermula segera setelah persediaan diterima.Laporan penerimaan yang bernomer urut harus diisi oleh bagian penerimaan barang perusahaan dalam upaya menegakkan akuntabilitas pertama terhadap persediaan, untuk memastikan bahwa persediaan yang diterima adalah yang dipesan setiap laporan penerimaan barang harus direkonsiliasikan dengan pesanan pembelian, disamping itu harga persediaan yang dipesan haruslah dibandingkan dengan harga yang ditagih oleh penjual kepada perusahaan.

Pengendalian internal untuk mengamankan persediaan meliputi pengembangan dan penerapan langkah-langkah keamanan untuk mencegah kerusakan persediaan atau pencurian oleh karyawan, pemisahan karyawan yang menjaga persediaan dengan yang membuat catatan-catatan akuntansi merupakan pemisahan tugas.










 

BAB III

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

 

3.1  Sejarah Singkat Perusahaan

 

Perusahaan kaligrafi Sinar Lendoh Terang mulai didirikan pada tahun 1989, awalnya perusahaan tersebut berdiri dengan nama PD. Sinar Lendoh Terang, yang kegiatan usahanya menjual kaset mengaji, kaligrafi, ukir-ukiran yang berasal dari jepara ke berbagai daerah baik dalam kota maupun luar kota. Dalam waktu yang relatif singkat perusahaan tersebut mengalami kemajuan dan perkembangan yang sangat pesat. Hal ini dikarenakan barang-barang yang dihasilkan mempunyai kualitas yang tinggi dengan harga yang bersaing dengan produk lain. Mengingat perkembangan yang begitu pesat pada tahun 1990 perusahaan tersebut berubah menjadi badan usaha resmi yang berbentuk Perseroan Terbatas dengan nama yang sama yaitu PT. Sinar Lendoh Terang.

Perusahaan tersebut diresmikan dengan SK SIUP No. 68/1101/PB/IV/1990, pada awalnya perusahaan hanya mempekerjakan empat sales dan tujuh orang karyawan.

PT. Sinar Lendoh Terang berlokasi di Jalan Raya Lendoh Bedono Jambu Kotak Pos 206 Ambarawa Kabupaten Semarang, didirikan oleh DR. HM Pujiono Cahyo Widianto, MBA yang juga menjabat sebagaimdirektur utama.

Pendirian perusahaan didaerah tersebut dapat mempermudah perusahaan dalam menjalankan aktivitasnya, karena tenaga kerja yang terampil dalam bidang ukir-ukiran mudah didapat dan yang diutamakan adalah masyarakat sekitarnya. Begitu pula dengan transportasinya yang sangat mudah, sehingga hubungan dengan kota lain bukan merupakan suatu kendala, juga fasilitas lain yang menunjang aktivitas perusahaan tersebut mudah didapat.



 

PT. Sinar Lendoh Terang berdiri dengan slogan “Mengapai bintang di langit” yang mempunyai arti perusahaan betul-betul diarahkan untuk menjadi perusahaan raksasa dengan acuan puluhan ribu karyawan dan mengutamakan pada masyarakat sekitar.

Logo perusahaan ini adalah “tangan kanan tempat menapak seekor kuda dan diatasnya terdapat sebuah bintang” arti dari logo tersebut adalah tangan kanan melambangkan perusahaan dimana para karyawan bekerja, kuda melambangkan keperkasaan para karyawan dalam bekerja dan bintang melambangkan cita-cita yang harus dicapai

 


3.2  Visi dan Misi

 

Adalah mengentaskan kemiskinan dimana perusahaan tersebut mengutamakan hasil yang diperuntukkan bagi kesejahteraan masyarakat sekitar, yaitu dengan menarik masyarakat yang mau dan mampu bekerja pada perusahaan tersebut. Sehingga tidak ada pengangguran, dan kemiskinan pun dapat dientaskan serta kesejahteraan masyarakat setempat dapat meningkat 

 

 

3.3  Bidang Usaha

PT. Sinar Lendoh Terang merupakan sebuah perusahaan manufaktur yang memproduksi relief dari kuningan yang dibuat dengan bermacam-macam bentuk. Pada mulanya kuningan yang masih berbentuk lembaran dipotong-potong menurut ukuran. Kuningan yang telah dipotong-potong kemudian digambar dan disodok supaya kuningan mengembung atau timbul kemudian diketok. Setelah gambar diketok dan dibraso kemudian dilapisi kuningan supaya tidak berkarat,proses akhir adalah pembingkaian. Dalam pembingkaian, bingkai juga dilapisi kuningan supaya tampak serasi dengan gambar. Dalam menjalankan usahanya, perusahaan ini juga menerima pesanan khusus.

Selain itu PT. Sinar Lendoh Terang juga memproduksi screen yang terbuat dari mika yang berwarna agak kecoklat-coklatan, mika yang masih dalam bentuk lembaran dipotong menurut ukuran dan bagian tepi mika diberi penjepit serta perekat supaya tetap menempel pada TV atau komputer.

Selain memproduksi gambar yang terbuat dari kuningan, perusahaan ini juga memproduksi gambar yang terbuat dari kanvas. Produk-produk yang dihasilkan PT. Sinar Lendoh Terang sebagai berikut:


Jenis produk

Bentuk produk

Ukuran

 

 

 

 

1. Relief

1.

Tulisan Ayat Kursi

152, 150, 77

Kuningan

2.

Gambar gerobak

152, 150, 77

 

3.

Gambar kuda liar

152, 150, 77

 

4.

Gambar ratu pantai selatan

152, 150

 

5.

Gambar kereta kencana

152, 150

 

6.

Gambar karno tanding

152, 150

 

7.

Gambar liong

152, 150

 

8.

Tulisan Al-Fatehah

152, 150

 

9.

Tulisan Basmalah

152, 77

 

10. Gambar kuda minum

152

 

11.

Gambar Al-Quran Murotal

150, 77

 

12.

Gambar Asmaul Husna

152, 77

 

13.

Gambar pintu ka’bah

152, 77

 

14.

Tulisan Allah dan Muhammad

20

 

15.

Gambar kuda tunggal

77

 

16.

Tulisan Syahadat

150, 126, 77

 

17.

Khusus (pesanan)

150, 150, 120, 77

2. Screen

 

 

12”, 14”, 17”, 20”, 21”

3. Kanvas

 

 

25”, 32”

 

 

 

 


 

 

3.4  Strategi Pemasaran

Dalam menawarkan produk kepada konsumen, perusahaan yang bersaing memiliki strategi pemasaran. Strategi ini dapat berhasil jika ada program yang direalisasikan oleh perusahaan. Program tersebut yang akan berfungsi untuk mencapai tujuan perusahaan. Salah satu program pemasaran yang digunakan untuk memperkenalkan produk perusahaan adalah product knowledge. Program ini adalah bagian penting yang harus dikomunikasikan oleh pemasar dalam memberikan informasi produk yang ditawarkan kepada konsumennya. Dalam penelitian ini, program product knowledge dapat diberikan melalui kegiatan public relations, periklanan, dan personal selling oleh tenaga penjual. Product knowledge S-tee dilaksanakan untuk meningkatkan penjualan yang sempat menurun untuk kemasan botol kaca 318 ml. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara secara mendalam dengan lima informan kunci yaitu Manajer Marketing Support, Staf Marketing Support, Staf Retail Bussiness Development (RBD), dan Sales Representative.

 

 

 

 

 

 

 

3.5  STUKTUR ORGANISASI

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


FUNGSI DAN KEWENANGAN :

 

1.      Pemegang Saham

·         Sebagai penyumbang dana dalam perusahaan

·         Bertanggung jawab pada rapat umum pemegang saham

2.      Dewan Komisaris

·         Melakukan pengawasan kebijakan pengurusan perusahaan

·         Meneliti laporan bulanan dan laporan tahunan yang dibuat perusahaan

·         Memberikan saran dan pendapat pada rapat umum pemegang saham

·         Mengawasi pelaksanaan rencana kerja dan anggaran perusahaan

3.      Direktur Utama

·         Bertanggung jawab dan mengontrol semua kegiatan perusahaan

·         Mengkoordinasi dan pembinaan terhadap kinerja karyawan

·         Menyusun arah dan kebijaksanaan dalam menyelenggarakan operasional perusahaan

·         Melaporkan dan mempertanggungjawabkan jalannya oerasional perusahaan kepada dewan komisaris dan pemegang saham

4.      Asisten Direktur Utama

·         Membantu direktur utama dalam memimpin pelaksanaan operasional perusahaan

·         Melakukan koordinasi, evaluasi dan pembinaan pada sasarannya (manajer produksi, manajer administrasi dan keuangan, manajer pemasaran)

·         Melakukan perencanaan atas pengembangan perusaha


·         Mewakili direktur apabila direktur berhalangan hadir

·         Bertanggung jawab pada direktur utama

5.      Manajer Produksi

·         Bertanggung jawab terhadap urusan produksi

·         Melakukan koordinasi dan kontrol terhadap produksi

·         Membuat laporan-laporan dibidang produksi

·         Bertanggung jawab pada direktur utama

 

6.      Bagian Gudang

·         Bertanggung jawab terhadap masuk dan keluarnya barang yang ada digudang

·         Bertanggung jawab pada manajer produksi

·         Melakukan pencatatan mutasi persediaan kedalam buku gudang

·         Melakukan penyesuaian antara hasil penghitungan fisik persediaan dengan buku gudang

 

7.      Bagian Produksi

·         Bertanggung jawab pada manejer produksi

·         Bertanggung jawab akan jalannya produksi pada perusahaan

 

8.      Bagian Pembelian

·         Bertanggung jawab pada manejer produksi, manejer administrasi dan keuangan

·         Melakukan pembelian yang diperlukan oleh perusahaan.


 

9.      Manajer Administrasi dan Keuangan

·         Bertanggung jawab atas administrasi dan keuangan perusahaan serta membuat laporan keuangan perusahaan

·         Melakukan administarasi dan kontrol terhadap staff administarasi dan keuangan

·         Melayani dan memproses administrasi kepegawaian

·         Bertanggung jawab pada direktur utama

10.  Kasir

·         Bertanggung jawab pada manejer administrasi dan keuangan

·         Bertanggung jawab akan masuk dan keluarnya uang yang ada dalam perusahaan

 

11.  Manajer Pemasaran

·         Melaksanakan kegiatan dan pengembangan bidang pemasaran

·         Menyusun anggaran dan melakukan kegiatan perusahaan

·         Membentuk team pemasaran, mencari dan memperluas dorongan pemasaran

·         Membuat laporan hasil pemasaran

·         Bertanggung jawab pada direktur utama

 

12.  RSM (Regional Sales Manajer)

·         Bertanggung jawab atas daerah atau wlayah pemasaran yang sudah menjadi tanggung jawab tiap RSM

·         Mengkoordinasi dan mengontrol terhadap jajaran pemasaran tiap daerah atau wilayah


·         Menyusun anggaran dan melakukan kegiatan pemasaran di daerah pemasaran yang menjadi tanggung jawabnya

·         Membentuk team pemasaran di daerah pemasaran yang menjadi tanggung jawabnya

 

·         Membuat laporan hasil pemasaran tiap wilayah atau daerah

 

·         Bertanggung jawab pada manajer pemasaran

13.  FM atau Field Manajer (Manajer Kantor Cabang)

·         Bertanggung jawab atas semua kegiatan yang terjadi di kantor cabang

·         Melakukan koordinasi dan mengontrol setiap sales yang menjadi tangung jawabnya

·         Membuat laporan-laporan yang berhubungan dengan kegiatan kantor cabang

·         Bertangung jawab pada RSM dan manajer administrasi dan keuangan

·         Mengirimkan laporan kegiatan penjualan yang terjadi di kantor cabang kepada staff administrasi kantor pusat

14.  SR (Sales Representative)

·         Mencari konsumen dan memperkenalkan produk kepada konsumen

·         Melaporkan hasil penjualan kepada FM

15.  Staff Administrasi

·         Menangani seluruh aktivitas perusahaan

·         Membuat laporan atas aktivitas yang terjadi di perusahaan

·         Menerima laporan penjualan dari kantor cabang / FM

·         Bertanggung jawab pada manajer administrasi dan keuangan.