KATA PENGANTAR
Puji syukur kami ucapkan kepada Tuhan yang maha Kuasa. Berkat bimbingan, pertolongan, dan nikmat yang diberikan-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas dengan judul “Prosedur Persediaan Bahan Baku pada PT. SINAR LENDOH TERANG”.
Adapun makalah ini kami susun sebagai salah satu tugas dalam mengikuti perkuliahan ini dan juga sebagai bentuk nyata akan harapan Dosen yang menginginkan agar kami menjadi Mahasiswa yang kreatif dan kritis, Mahasiswa yang mampu menjawab dan menghadapi tantangan kemajuan zaman.
Kami dengan setulus hati mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada semua pihak, khususnya kepada Dosen dan semua teman-teman atas bantuan dan dukungan yang telah diberikan kepada kami dalam pembuatan tugas ini sampai selesai. Mudah-mudahan makalah ini bermanfaat kepada kami khususnya dan kepada semua para pembaca pada umumnya.
Meskipun kami telah sukses dan selesai dalam membuat makalah ini, kami menyadari bahwa makalah ini masih belum sempurna dan belum sesuai dengan harapan Dosen, dimana dibeberapa bagian masih terdapat kekurangan. Hal ini disebabkan keterbatasan kemampuan dan pengetahuan kami. Maka dari itu kami dengan senang hati mengharap kritik dan saran yang bersifat konstruktif dari semua pihak guna perbaikan dari kekurangan yang ada.
Bekasi, 24 September 2020
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Dalam suatu perusahaan persediaan mempunyai arti penting karena akan mempengaruhi tingkat produksi maupun penjualan. Persediaan barang dagang untuk perusahaan dagang adalah persediaan barang yang akan dijual kembali tanpa mengubah bentuk barang tersebut sedang persediaan dalam perusahaan manufaktur dibagi menjadi tiga yaitu persediaan bahan baku, persediaan barang dalam proses, persediaan barang jadi. Persediaan bahan baku adalah barang-barang yang diperoleh dalam keadaan harus dikembangkan yang akan menjadi bagian utama dari barang jadi atau barang-barang berwujud yang diperoleh untuk penggunaan langsung dalam proses produksi sedang persediaan barang dalam proses meliputi produk-produk yang telah mulai dimasukkan dalam proses produksi, namun belum selesai diolah sedangkan persediaan barang jadi meliputi produk-produk olahan yang siap untuk dijual kepada para konsumen.
Setiap perusahaan, apakah itu perusahaan dagang ataupun manufaktur selalu mengadakan persediaan, tanpa adanya persediaan yang optimal para pengusaha akan dihadapkan pada resiko bahwa perusahaannya pada suatu waktu tidak dapat memenuhi keinginan konsumen yang memerlukan atau meminta produk yang dihasilkan. Hal ini mungkin terjadi, karena tidak selamanya produk-produk tersedia pada setiap saat yang berarti pula bahwa pengusaha akan
kehilangan kesempatan memperoleh keuntungan yang seharusnya didapatkan. Perusahaan sebaiknya selalu menyediakan bahan baku yang akan diolah untuk proses produksinya agar tidak menghambat kelancaran usaha.
Persediaan merupakan bagian utama dari modal kerja yang merupakan aktiva yang pada setiap saat mengalami perubahan. Semakin tinggi tingkat perputarannya atau semakin cepat perputaranya berarti makin pendek tingkat dana dalam persediaan sehingga dibutuhkan dana yang relatif kecil. Sebaliknya semakin rendah tingkat perputaran atau semakin lambat perputaranya berarti semakin panjang terikatnya dana dalam persediaan. Dalam hal ini juga akan berpengaruh pemenuhan dana berasal dari luar perusahaan yang harus menanggung biaya bunga dan besarnya bunga akan ditentukan lama pendeknya pengembalian pinjaman (Indriyo Gitosudarmo, 2002: 93).
Pada perusahaan manufaktur, masalah yang sering dihadapi adalah masalah kelancaran proses produksi berupa penangganan persediaan bahan baku yang tepat agar tidak terjadi kelebihan serta kekurangan bahan baku, perusahaan harus dapat mengelola persediaan yang dimiliki sebaik mungkin sesuai dengan kebijakan-kebijakan manajemen perusahaan.Untuk menjamin agar pengelolaan persediaan sesuai dengan kebijakan manajemen perusahaan, maka dibutuhkan suatu sistem yang manpu menjamin tercapainya tujuan perusahaan. Salah satu sistem tersebut adalah sistem akuntansi persediaan bahan baku pada perusahaan itu sendiri.
PT Sinar Lendoh Terang merupakan perusahaan yang memproduksi berbagai macam kerajinan yang terbuat dari kuningan, produk perusahaan ini berupa hiasan dinding yang berbentuk relief yang mengambarkan berbagai keadaan ataupun kaligrafi arab. Dalam pengadaan persediaan PT Sinar Lendoh Terang mempunyai beberapa tipe persediaan yaitu persediaan produk jadi, persediaan produk dalam proses, persediaan bahan baku, persediaan bahan penolong, persediaan bahan habis pakai pabrik. PT Sinar Lendoh Terang menggunakan sistem dalam menjalankan operasi perusahaanya, tujuan diterapkannya sistem adalah agar tujuan perusahaan tercapai yaitu mencapai tingkat laba yang diinginkan.Sedangkan tujuan dari sistem persediaan bahan baku adalah agar proses terselenggarakanya persediaan bahan baku berjalan dengan lancar karena dengan penerapan sistem persediaan bahan baku maka perusahaan akan mendapat manfaat yang besar. Manfaat sistem persediaan bahan baku antara lain jalannya penyelenggaraan persediaan bahan baku akan menjadi teratur, adanya bagian yang bertanggung jawab untuk masing-masing bagian.
Dari uraian di atas, maka penulis ingin mengadakan penelitian dengan judul “PROSEDUR PERSEDIAAN BAHAN BAKU PADA PT SINAR LENDOH TERANG”
1.2 Rumusan Masalah
Setiap perusahaan akan selalu berusaha untuk menyediakan persediaan yang cukup, terutama bahan baku bagi perusahaan manufaktur untuk menghindari situasi kehabisan persediaan yang dapat mengakibatkan berkurangnya produksi dan penjualan. Dari berbagai tipe persediaan yang ada pada PT Sinar Lendoh Terang yaitu persediaan produk jadi, persediaan produk dalam proses, persediaan bahan baku, persediaan bahan penolong, persediaan bahan habis pakai pabrik maka dalam penulisan ini akan dibahas sistem persediaan bahan baku pada PT Sinar Lendoh Terang.Adapun permasalahan yang akan dibahas meliputi:
1. Metode pencatatan persediaan bahan baku pada PT. Sinar Lendoh Terang
2. Bagaimana prosedur yang membentuk sistem persediaan bahan baku pada PT. Sinar Lendoh Terang
3. Bagaimana pengendalian intern yang terdapat dalam sistem persediaan bahan baku pada PT. Sinar Lendoh Terang
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah yang akan dibahas, maka penelitian ini mempunyai beberapa tujuan yaitu:
A. Untuk mengetahui metode pencatatan persediaan bahan baku pada PT. Sinar Lendoh Terang
B. Untuk mengetahui jaringan prosedur yang membentuk sistem persediaan bahan baku pada PT Sinar Lendoh Terang
C. Untuk mengetahui unsur pengendalian intern yang terdapat dalam sistem persediaan bahan baku pada PT. Sinar Lendoh Terang
1.4 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian dapat memberikan suatu informasi bagi pihak-pihak yang terkait yaitu sebagai berikut :
1.5.1 Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat menambah dan memperluas pengetahuan mengenai sistem persediaan bahan baku pada PT Sinar Lendoh Terang
1.5.2 Manfaat Praktis
A. Bagi Perusahaan Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi informasi yang dapat digunakan oleh PT. Sinar Lendoh Terang dalam melaksanakan kegiatan yang berhubungan dengan persediaan bahan baku.
B. Bagi Penulis Hasil Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan dengan melihat praktik sebenarnya yang terjadi di lapangan serta belajar memecahkan masalah khususnya yang berhubungan dengan alur informasi yang dapat meningkatkan produktivitas.
C. Bagi Perguruan Tinggi Hasil penelitian ini diharapkan dapat dipergunakan sebagai bahan referensi dan dasar penelitian sejenis yang dapat dikembangkan lebih luas yang diterapkan pada perguruan tinggi di masa mendatang.
D. Bagi pihak lain Hasil Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuin bagi pihak lain tentang kinerja perusahaan dan dapat menambah wawasan bagi pembaca.
1.6 Sistematika Penulisan
Sebelum membahas materi ini lebih dalam, maka penulis ingin memberitahukan pentingnya mengemukakan sistematika pembahasan ini dengan maksud agar membantu para pembaca untuk mempermudah pemahaman materi pembahasan secara garis besarnya untuk penyusunan tugas akhir mengenai hal-hal yang akan dibahas dalam penelitian ini, maka sistematika penulisan akan diuraikan dalam enam bab. Adapun sistematika penulisan adalah sebagai berikut :
BAB I : PENDAHULUAN
Dalam bab ini penulis menerangkan mengenai latar belakang masalah dari penelitian yang akan menjadi dasar dalam perumusan masalah, tujuan penelitian dan manfaat penelitian serta sistematika penulisan.
BAB II : LANDASAN TEORI
Merupakan bab yang berisi uraian secara ringkas teori-teori yang menjelaskan tentang permasalahan yang akan diteliti. Teori atas variabel-variabel yang terdapat dalam penelitian ini akan dijabarkan dalam bentuk definisi-definisi yang bersumber dari beberapa buku serta dari hasil penelitian sebelumnya.
BAB III : METODOLOGI PENELITIAN
Merupakan bab yang berisi penjelasan secara rinci mengenai semua unsur metode penelitian ini, yaitu penjelasan mengenai lokasi penelitian, jenis dan sumber data, metode pengumpulan data, identifikasi variabel penelitian, definisi operasional variabel serta teknis analisis data.
BAB IV : GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
Pada bab ini menerangkan mengenai gambaran umum perusahaan yang meliputi profil perusahaan, sejarah singkat perusahaan serta visi dan misi perusahaan.
BAB V : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Bab ini merinci seluruh proses penelitiandan hasil penelitian serta pembahasan mengenai penerapan good corporate governance terhadap efektivitas prosedur pembelian.
BAB VI : KESIMPULAN DAN SARAN
Bab ini merupakan penutup dari keseluruhan pokok bahasan yang berisi kesimpulan dari hasil keseluruhan penelitian yang telah dilakukan, keterbatasan yang ada dalam penelitian, dan saran-saran perbaikan yang diharapkan dapat bermanfaat bagi penelitian selanjutnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Prosedur
Pada era informasi dan globalisasi menyebabkan lingkungan bisnis mengalami perubahan yang sangat pesat dengan tingkat persaingan yang ketat. Oleh karena itu, perusahaan dituntut untuk melaksanakan sistem dan prosedur kegiatan yang efektif dan efisien untuk mempertahankan eksistensinya. Berikut ini adalah beberapa pengertian dari sistem dan prosedur :
Menurut Cole dalam Baridwan (1990: 3), sistem adalah suatu kerangka dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan yang disusun sesuai dengan suatu skema yang menyeluruh, untuk melaksanakan suatu kegiatan atau fungsi utama dari perusahaan.
Menurut Mulyadi (2001: 5), sistem adalah suatu jaringan prosedur yang dibuat menurut pola yang terpadu untuk melaksanakan kegiatan pokok perusahaan.
Prosedur adalah suatu urutan kegiatan klerikal, biasanya melibatkan beberapa orang dalam satu departemen atau lebih, yang dibuat untuk menjamin penanganan secara seragam transaksi perusahaan yang terjadi berulang-ulang (Mulyadi, 2001: 5).
Menurut Gillespie 1971 dalam Baridwan (1990: 3), prosedur adalah urut-urutan pekerjaan yang klerikal, yang biasanya melibatkan beberapa orang dalam satu bagian atau lebih, disusun untuk menjamin adanya transaksi-transaksi yang sering terjadi di perusahaan. Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa suatu sistem terdiri dari jaringan prosedur, sedangkan prosedur merupakan urutan kegiatan klerikal. Kegiatan klerikal (klerikal operation) terdiri dari kegiatan berikut ini yang dilakukan untuk mencari informasi dalam formulir, buku jurnal, dan buku besar:
1. Menulis
2. Menggandakan
3. Menghitung
4. Memberi kode
5. Mendaftar
6. Memilih
7. Memindah
8. Membandingkan.
2.2 Pengertian Persediaan
Pengertian persediaan adalah aktiva yang dimiliki oleh suatu perusahaan yang tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha normal, dalam proses produksi atau dalam perjalanan, dalam bentuk bahan baku atau keperluan untuk dipakai dalam proses produksi atau penyerahan jasa (Henry Simamora, 2000:266)
Persediaan adalah nama yang diberikan untuk barang-barang baik yang dibuat atau dibeli untuk dijual kembali dalam bisnis normal (K. Fred Skousen dkk, 2001:360)
Persediaan merupakan bagian utama dari modal kerja, merupakan aktiva yang pada setiap saat mengalami perubahan (Indiro Gitosudarmo, 2002:931)
Persediaan adalah barang-barang yang dimiliki untuk dijual kembali atau digunakan untuk memproduksi barang-barang yang akan dijual (Zaki Baridwan, 2000:149)
Dari definisi tersebut persediaan dapat diartikan sebagai suatu unsur dalam perusahaan yang tersedia untuk digunakan dalam proses produksi, maupun untuk dijual kembali dan pada setiap saat mengalami perubahan
Menurut Zaki Baridwan (2000:150) jenis persediaan yang ada dalam perusahaan manufaktur adalah:
1. Persediaan bahan baku dan bahan penolong
Bahan baku adalah barang-barang yang akan menjadi bagian dari produk jadi yang dengan mudah dapat diikuti biayanya, sedangkan bahan penolong adalah barang-barang yang juga menjadi bagian dari produk jadi tetapi jumlahnya kecil atau sulit diikuti biayanya
2. Supplies pabrik
Supplies pabrik adalah barang-barang yang mempunyai fungsi melancarkan proses produksi misalnya oli mesin, bahan pembersih mesin.
3. Barang dalam proses
Barang dalam proses adalah barang-barang yang sedang dikerjakan (diproses) tetapi pada tanggal neraca barang-barang tadi belum selesai dikerjakan. Untuk dapat dijual masih diperlukan pengerjaan lebih lanjut.
4. Produk selesai
Produk selesai adalah barang-barang yang sudah selesai dikerjakan dalam proses produksi dan menunggu saat penjualan
2.3 Metode Pencatatan Persediaan
1. Metode mutasi persediaan (metode perpetual)
Dalam metode mutasi persediaan, setiap mutasi persediaan dicatat dalam kartu persediaan (Mulyadi, 2001:556).
Sistem perpetual, dimana persediaan barang dagangan ditentukan dengan membuat catatan yang berkelanjutan perihal kenaikan, penurunan, dan saldo persediaan barang dagangan. Setiap kali barang dagangan dibeli, rekening persediaan meningkat, setiap kali barang dagangan dijual, rekening persediaan menurun. Sistem persediaan perpetual disebut juga dengan sistem persediaan buku (Henry Simamora, 2000: 271).
2. Metode Persediaan Fisik
Dalam metode persediaan fisik, hanya tambahan persediaan dari pembelian saja yang dicatat, sedangkan mutasi berkurangnya persediaan karena pemakaian tidak dicatat dalam kartu persediaan (Mulyadi, 2001:556).
Sistem periodik, di mana persediaan barang dagangan ditentukan dengan menghitung, menimbang, atau mengukur unsur-unsur persediaan yang ada digudang. Sistem periodik menyesuaikan saldo persediaan hanya pada akhir periode akuntansi. Rekening persediaan tidak terpengaruh oleh pembelian maupun penjualan persediaan selama periode berjalan. Sistem periodik disebut juga dengan sistem persediaan fisik (Henry Simamora, 2000:271)
2.4 Metode Penetuan Harga atau Biaya Pokok Persediaan
a. Metode Masuk Pertama Keluar Pertama (FIFO)
Harga pokok persediaan akan dibebankan sesuai dengan urutan terjadinya. Apabila ada penjualan atau pemakaian barang-barang maka harga pokok yang dibebankan adalah harga pokok yang paling terdahulu, disusul yang masuk berikutnya. Persediaan akhir dibebani harga pokok terakhir.
b. Metode masuk Terakhir Keluar Pertama (LIFO)
Barang-barang yang dikeluarkan dari gudang akan dibebani dengan harga pokok pembelian yang terakhir disusul dengan yang masuk sebelumnya. Persediaan akhir dihargai dengan harga pokok pembelian yang pertama dan berikutnya.
c. Rata-rata Tertimbang
Dalam metode ini, barang-barang yang dipakai untuk produksi atau penjualan akan dibebani harga pokok rata-rata. Perhitungan harga pokok rata-rata dilakukan dengan cara membagi jumlah harga perolehan dengan kuantitasnya.
d. Metode Identifikasi Khusus
Metode identifikasi khusus didasarkan pada anggapan bahwa arus barang harus sama dengan arus biayanya. Untuk itu perlu dipisahkan tiap-tiap jenis barang berdasarkan harga pokoknya dan untuk masing-masing kelompok
dibuatkan kartu persediaan sendiri, sehingga masing-masing harga pokok bisa diketahui. Harga pokok penjualan terdiri dari harga pokok barang-barang yang dijual dan sisanya merupakan persediaan akhir.
2.5 Prosedur yang membentuk sistem
Jaringan prosedur yang bersangkutan dengan sistem persediaan bahan baku adalah :
1. Prosedur pencatatan harga pokok persediaan yang dibeli Dalam prosedur ini dicatat harga pokok persediaan yang dibeli. Dokumen yang digunakan
a. Laporan penerimaan barang
Laporan penerimaan barang digunakan oleh bagian gudang sebagai dasar pencatatan tambahan kuantitas barang dari pembelian kedalam kartu gudang
b. Bukti kas keluar
Bukti kas keluar yang dilampiri dengan laporan penerimaan barang, surat order pembelian, dan faktur dari pemasok dipakai sebagai dokumen sumber dalam pencatatan harga pokok persediaan yang dibeli dalam register bukti kas keluar, bukti kas keluar juga dipakai sebagai dasar pencatatan tambahan kuantitas dan harga pokok persediaan kedalam kartu persedian
2. Prosedur pencatatan harga pokok persediaan yang dikembalikan kepada pemasok
Jika persediaan yang telah dibeli dikembalikan kepada pemasok, maka akan mengurangi jumlah persediaan dalam kartu gudang yang diselenggarakan oleh bagian gudang dan harga pokok persediaan yang dicatat oleh bagian kartu persediaan dalam kartu persediaan yang bersangkutan .
Dokumen yang digunakan
a. Laporan pengiriman barang
Digunakan oleh bagian gudang untuk mencatat jumlah persediaan yang dikirimkam kembali kepada pemasok kedalam kartu gudang
b. Memo debit yang diterima dari bagian pembelian
Digunakan oleh bagian kartu persediaan untuk mencatat jumlah dan harga pokok persediaan yang dikembalikan kepada pemasok kedalam kartu gudang
3. Prosedur permintaan dan pengeluaran barang gudang
Dalam prosedur ini dicatat harga pokok persediaan bahan baku, bahan penolong, bahan habis pakai pabrik, yang dipakai dalam kegiatan produksi dan kegiatan non produksi.
Dokumen yang digunakan
· Bukti permintaan dan pengeluaran barang gudang
Bukti ini digunakan oleh bagian gudang untuk mencatat pengurangan persediaan karena pemakaian intern, digunakan juga oleh bagian kartu
persediaan untuk mencatat berkurangnya jumlah dan harga pokok persediaan, digunakan juga sebagai dokumen sumber dalam pencatatan pemakaian persediaan kedalam jurnal pemakaian bahan baku atau jurnal umum.
4. Prosedur pengembalian barang gudang
Pengembalian barang gudang akan mengurangi biaya dan menambah persediaan barang di gudang.
Dokumen yang digunakan
· Bukti pengembalian barang gudang
Bukti ini digunakan oleh bagian gudang untuk mencatat tambahan jumlah persediaan kedalam kartu gudang, digunakan juga oleh bagian kartu persedian untuk mencatat tambahan jumlah dan harga pokok persediaan kedalam kartu persediaan, untuk mencatat berkurangnya biaya kedalam kartu biaya dan untuk mencatat pengembalian barang gudang tersebut kedalam jurnal umum.
5. Perhitungan fisik persediaan
Sistem penghitungan fisik persediaan umumnya digunakan oleh perusahaan untuk menghitung secara fisik persediaan yang disimpan di gudang, yang hasilnya digunakan untuk meminta pertanggung jawaban bagian gudang mengenai pelaksanaan fungsi penyimpanan, dan pertanggung jawaban bagian kartu persediaan mengenai keandalan catatan persediaan yang diselenggarakan, serta untuk melakukan penyesuaian terhadap catatan persediaan di bagian kartu persediaan.
Dokumen yang digunakan dalam sistem perhitungan fisik persediaan
a. Kartu penghitungan fisik
Digunakan untuk merekam hasil perhitungan fisik persediaan. Dalam Penghitungan fisik persediaan, setiap jenis persediaan dihitung dua kali secara independen oleh penghitung dan pengecek.
b. Daftar hasil penghitungan fisik
Digunakan untuk meringkas data yang telah direkam dalam bagian kartu persediaan fisik yang diisi oleh pengecek.Data yang disalin kedaftar ini adalah: nomer kartu persediaan fisik, nomer kode persediaan, nama persediaan, kuantitas dan satuan.
c. Bukti memorial
Digunakan untuk membukukan penyesuaian rekening persediaan sebagai akibat dari hasil penghitungan fisik kedalam jurnal umum.
Data yang digunakan sebagai dasar pembuatan bukti memorial adalah selisih jumlah harga pokok total dalam daftar hasil penghitungan fisik dengan saldo harga pokok persediaan yang bersangkutan menurut kartu persediaan.
Catatan akuntansi yang digunakan dalam sistem penghitungan fisik a. Kartu persediaan
Digunakan untuk mencatat penyesuaian terhadap data (jumlah dan harga pokok total) yang tercantum dalam kartu persediaan oleh bagian kartu persediaan berdasar hasil penghitungan fisik persediaan.
b. Kartu gudang
Digunakan untuk mencatat penyesuaian terhadap data persediaan (jumlah) yang tercantum dalam kartu gudang yang diselenggarakan oleh bagian gudang berdasarkan hasil penghitungan fisik persediaan
c. Jurnal umum
Digunakan untuk mencatat jurnal penyesuaian rekening persrdiaan karena adanya perbedaan antara saldo yang dicatat dalam rekening persediaan dengan saldo menurut perhitungan fisik
Fungsi yang terkait dengan sistem penghitungan fisik
a. Panitia penghitungan fisik persediaan Panitia ini terdiri dari:
• Pemegang kartu penghitungan fisik yang bertugas untuk menyimpan dan mendistribusikan kartu penghitungan fisik kepada para penghitung, melaksanakan perbandingan hasil penghitungan fisik persediaan yang telah dilaksanakan oleh penghitung dan pengecek, mencatat hasil penghitungan fisik persediaan dalam daftar hasil penghitungan fisik.
• Penghitung yang bertugas melaksanakan penghitungan pertama terhadap persediaan dan mencatat hasil penghitungan tersebut kedalam bagian ketiga kartu penghitungan fisik dan menyobeknya untuk diserahkan kepada pemegang kartu penghitungan fisik.
• Pengecek bertugas untuk melaksanakan penghitungan kedua terhadap persediaan yang telah dihitung oleh penghitung dan mencatatnya dalam bagian kedua kartu persediaan fisik serta menyobeknya untuk diserahkan pada pemegang kartu penghitungan fisik
b. Fungsi akutansi
Fungsi ini bertanggung jawab mencantumkan harga pokok satuan persediaan yang dihitung kedalam daftar hasil penghitungan fisik, mengkalikan kuantitas dan harga pokok per satuan yang tercantum dalam daftar hasil penghitungan fisik, mencantumkan harga pokok total dalam daftar hasil penghitungan fisik, melaksanakan penyesuaian terhadap kartu persediaan berdasar data hasil penghitungan fisik persediaan, membuat bukti memorial untuk mencatat penyesuaian data persediaan dalam jurnal umum berdasar hasil penghitungan fisik persediaan.
c. Fungsi gudang
Bertanggung jawab untuk melaksanakan penyesuaian data jumlah persediaan yang dicatat dalam kartu gudang berdasar hasil penghitungan fisik persediaan.
Jaringan prosedur yang membentuk sistem penghitungan fisik persediaan
1. Prosedur penghitungan fisik
Dalam prosedur ini tiap jenis persediaan di gudang dihitung oleh penghitung dan pengecek secara independen yang hasilnya dicatat dalam kartu penghitungan fisik
2. Prosedur kompilasi
Dalam prosedur ini pemegang kartu penghitungan fisik melakukan perbandingan data yang dicatat dalam bagian ketiga dan bagian kedua kartu penghitungan fisik serta melakukan pencatatan data yang tercantum dalam bagian kedua kartu penghitungan fisik ke dalam daftar penghitungan fisik
3. Prosedur penentuan harga pokok persediaan
Dalam prosedur ini bagian kartu persediaan mengisi harga pokok per satuan tiap jenis persediaan yang tercantum dalam daftar penghitungan fisik berdasarkan informasi dalam kartu persediaan yang bersangkutan serta mengalikan harga pokok persatuan tersebut dengan kuantitas hasil penghitungan fisik untuk mendapatkan total harga pokok persediaan yang dihitung.
4. Prosedur penyesuaian
Dalam prosedur ini bagian kartu persediaan melakukan penyesuaian terhadap data persediaan yang tercantum dalam kartu persediaan berdasarkan data hasil perhitungan fisik persediaan yang tercantum dalam
daftar hasil penghitungan fisik persediaan. Dalam prosedur ini pula bagian gudang melakukan penyesuaian terhadap data kuantitas persediaan yang tercatat dalam kartu gudang.
Unsur pengendalian intern
Dalam sistem penghitungan fisik persediaan unsur pengendalian intern digolongkan menjadi:
1. Organisasi
1. Penghitungan fisik persediaan dilaksanakan oleh panitia penghitungan fisik persediaan
2. Panitia yang dibentuk anggotanya selain karyawan fungsi gudang dan akutansi
2. Sistem otorisasi dan prosedur pencatatan
1. Daftar hasil penghitungan fisik ditandatangani oleh ketua panitia penghitungan fisik persediaan
2. Mencatat hasil penghitungan fisik didasarkan atas kartu penghitungan fisik yang telah diteliti kebenarannya oleh pemegang kartu penghitungan fisik
3. Harga satuan yang tercantum dalam daftar hasil penghitungan fisik berasal dari kartu persediaan yang bersangkutan.
4. Penyesuaian terhadap kartu persediaan didasarkan pada informasi (jumlah maupun harga pokok total) tiap jenis persediaan yang tercantum dalam daftar penghitungan fisik.
a. Kartu penghitungan fisik benomer urut tercetak dan penggunaanya dipertanggung jawabkan oleh fungsi pemegang kartu penghitungan fisik
b. Penghitungan fisik tiap jenis persediaan dilaksanakan dua kali secara independen
c. Jumlah dan data persediaan yang lain yang tercantum dalam kartu perhitungan fisik bagian tiga dan dua dicocokkan oleh fungsi pemegang kartu penghitungan fisik sebalum data yang tercantum dalam bagian dua kartu penghitungan fisik dicatat dalam daftar hasil penghitungan fisik
d. Peralatan dan metode yang digunakan untuk mengukur dan menghitung jumlah persediaan harus dijamin ketelitiannya.
2.6 Pengendalian intern atas persediaan
Menurut Henry Simamora (2000:288), tujuan pengendalian internal atas persediaan adalah untuk memastikan bahwa persediaan diamankan dan dilaporkan secara benar dalam laporan keuangan.Pengendalian internal ini dapat bersifat preventif maupun detektif, Pengendalian preventif dirancang untuk mencegah terjadi kesalahan sedang pengendalian detektif dirancang untuk mendeteksi setiap kesalahan setelah terjadi
Pengendalian atas persediaan haruslah bermula segera setelah persediaan diterima.Laporan penerimaan yang bernomer urut harus diisi oleh bagian penerimaan barang perusahaan dalam upaya menegakkan akuntabilitas pertama terhadap persediaan, untuk memastikan bahwa persediaan yang diterima adalah yang dipesan setiap laporan penerimaan barang harus direkonsiliasikan dengan pesanan pembelian, disamping itu harga persediaan yang dipesan haruslah dibandingkan dengan harga yang ditagih oleh penjual kepada perusahaan.
Pengendalian internal untuk mengamankan persediaan meliputi pengembangan dan penerapan langkah-langkah keamanan untuk mencegah kerusakan persediaan atau pencurian oleh karyawan, pemisahan karyawan yang menjaga persediaan dengan yang membuat catatan-catatan akuntansi merupakan pemisahan tugas.
BAB III
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
3.1 Sejarah Singkat Perusahaan
Perusahaan kaligrafi Sinar Lendoh Terang mulai didirikan pada tahun 1989, awalnya perusahaan tersebut berdiri dengan nama PD. Sinar Lendoh Terang, yang kegiatan usahanya menjual kaset mengaji, kaligrafi, ukir-ukiran yang berasal dari jepara ke berbagai daerah baik dalam kota maupun luar kota. Dalam waktu yang relatif singkat perusahaan tersebut mengalami kemajuan dan perkembangan yang sangat pesat. Hal ini dikarenakan barang-barang yang dihasilkan mempunyai kualitas yang tinggi dengan harga yang bersaing dengan produk lain. Mengingat perkembangan yang begitu pesat pada tahun 1990 perusahaan tersebut berubah menjadi badan usaha resmi yang berbentuk Perseroan Terbatas dengan nama yang sama yaitu PT. Sinar Lendoh Terang.
Perusahaan tersebut diresmikan dengan SK SIUP No. 68/1101/PB/IV/1990, pada awalnya perusahaan hanya mempekerjakan empat sales dan tujuh orang karyawan.
PT. Sinar Lendoh Terang berlokasi di Jalan Raya Lendoh Bedono Jambu Kotak Pos 206 Ambarawa Kabupaten Semarang, didirikan oleh DR. HM Pujiono Cahyo Widianto, MBA yang juga menjabat sebagaimdirektur utama.
Pendirian perusahaan didaerah tersebut dapat mempermudah perusahaan dalam menjalankan aktivitasnya, karena tenaga kerja yang terampil dalam bidang ukir-ukiran mudah didapat dan yang diutamakan adalah masyarakat sekitarnya. Begitu pula dengan transportasinya yang sangat mudah, sehingga hubungan dengan kota lain bukan merupakan suatu kendala, juga fasilitas lain yang menunjang aktivitas perusahaan tersebut mudah didapat.
PT. Sinar Lendoh Terang berdiri dengan slogan “Mengapai bintang di langit” yang mempunyai arti perusahaan betul-betul diarahkan untuk menjadi perusahaan raksasa dengan acuan puluhan ribu karyawan dan mengutamakan pada masyarakat sekitar.
Logo perusahaan ini adalah “tangan kanan tempat menapak seekor kuda dan diatasnya terdapat sebuah bintang” arti dari logo tersebut adalah tangan kanan melambangkan perusahaan dimana para karyawan bekerja, kuda melambangkan keperkasaan para karyawan dalam bekerja dan bintang melambangkan cita-cita yang harus dicapai
3.2 Visi dan Misi
Adalah mengentaskan kemiskinan dimana perusahaan tersebut mengutamakan hasil yang diperuntukkan bagi kesejahteraan masyarakat sekitar, yaitu dengan menarik masyarakat yang mau dan mampu bekerja pada perusahaan tersebut. Sehingga tidak ada pengangguran, dan kemiskinan pun dapat dientaskan serta kesejahteraan masyarakat setempat dapat meningkat
3.3 Bidang Usaha
PT. Sinar Lendoh Terang merupakan sebuah perusahaan manufaktur yang memproduksi relief dari kuningan yang dibuat dengan bermacam-macam bentuk. Pada mulanya kuningan yang masih berbentuk lembaran dipotong-potong menurut ukuran. Kuningan yang telah dipotong-potong kemudian digambar dan disodok supaya kuningan mengembung atau timbul kemudian diketok. Setelah gambar diketok dan dibraso kemudian dilapisi kuningan supaya tidak berkarat,proses akhir adalah pembingkaian. Dalam pembingkaian, bingkai juga dilapisi kuningan supaya tampak serasi dengan gambar. Dalam menjalankan usahanya, perusahaan ini juga menerima pesanan khusus.
Selain itu PT. Sinar Lendoh Terang juga memproduksi screen yang terbuat dari mika yang berwarna agak kecoklat-coklatan, mika yang masih dalam bentuk lembaran dipotong menurut ukuran dan bagian tepi mika diberi penjepit serta perekat supaya tetap menempel pada TV atau komputer.
Selain memproduksi gambar yang terbuat dari kuningan, perusahaan ini juga memproduksi gambar yang terbuat dari kanvas. Produk-produk yang dihasilkan PT. Sinar Lendoh Terang sebagai berikut:
|
Jenis produk |
Bentuk produk |
Ukuran |
|
|
|
|
|
|
|
1. Relief |
1. |
Tulisan Ayat Kursi |
152, 150, 77 |
|
Kuningan |
2. |
Gambar gerobak |
152, 150, 77 |
|
|
3. |
Gambar kuda liar |
152, 150, 77 |
|
|
4. |
Gambar ratu pantai selatan |
152, 150 |
|
|
5. |
Gambar kereta kencana |
152, 150 |
|
|
6. |
Gambar karno tanding |
152, 150 |
|
|
7. |
Gambar liong |
152, 150 |
|
|
8. |
Tulisan Al-Fatehah |
152, 150 |
|
|
9. |
Tulisan Basmalah |
152, 77 |
|
|
10. Gambar kuda minum |
152 |
|
|
|
11. |
Gambar Al-Quran Murotal |
150, 77 |
|
|
12. |
Gambar Asmaul Husna |
152, 77 |
|
|
13. |
Gambar pintu ka’bah |
152, 77 |
|
|
14. |
Tulisan Allah dan Muhammad |
20 |
|
|
15. |
Gambar kuda tunggal |
77 |
|
|
16. |
Tulisan Syahadat |
150, 126, 77 |
|
|
17. |
Khusus (pesanan) |
150, 150, 120, 77 |
|
2. Screen |
|
|
12”, 14”, 17”, 20”, 21” |
|
3. Kanvas |
|
|
25”, 32” |
|
|
|
|
|
3.4 Strategi Pemasaran
Dalam menawarkan produk kepada konsumen, perusahaan yang bersaing memiliki strategi pemasaran. Strategi ini dapat berhasil jika ada program yang direalisasikan oleh perusahaan. Program tersebut yang akan berfungsi untuk mencapai tujuan perusahaan. Salah satu program pemasaran yang digunakan untuk memperkenalkan produk perusahaan adalah product knowledge. Program ini adalah bagian penting yang harus dikomunikasikan oleh pemasar dalam memberikan informasi produk yang ditawarkan kepada konsumennya. Dalam penelitian ini, program product knowledge dapat diberikan melalui kegiatan public relations, periklanan, dan personal selling oleh tenaga penjual. Product knowledge S-tee dilaksanakan untuk meningkatkan penjualan yang sempat menurun untuk kemasan botol kaca 318 ml. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara secara mendalam dengan lima informan kunci yaitu Manajer Marketing Support, Staf Marketing Support, Staf Retail Bussiness Development (RBD), dan Sales Representative.
3.5 STUKTUR ORGANISASI
FUNGSI DAN KEWENANGAN :
1. Pemegang Saham
· Sebagai penyumbang dana dalam perusahaan
· Bertanggung jawab pada rapat umum pemegang saham
2. Dewan Komisaris
· Melakukan pengawasan kebijakan pengurusan perusahaan
· Meneliti laporan bulanan dan laporan tahunan yang dibuat perusahaan
· Memberikan saran dan pendapat pada rapat umum pemegang saham
· Mengawasi pelaksanaan rencana kerja dan anggaran perusahaan
3. Direktur Utama
· Bertanggung jawab dan mengontrol semua kegiatan perusahaan
· Mengkoordinasi dan pembinaan terhadap kinerja karyawan
· Menyusun arah dan kebijaksanaan dalam menyelenggarakan operasional perusahaan
· Melaporkan dan mempertanggungjawabkan jalannya oerasional perusahaan kepada dewan komisaris dan pemegang saham
4. Asisten Direktur Utama
· Membantu direktur utama dalam memimpin pelaksanaan operasional perusahaan
· Melakukan koordinasi, evaluasi dan pembinaan pada sasarannya (manajer produksi, manajer administrasi dan keuangan, manajer pemasaran)
· Melakukan perencanaan atas pengembangan perusaha
· Mewakili direktur apabila direktur berhalangan hadir
· Bertanggung jawab pada direktur utama
5. Manajer Produksi
· Bertanggung jawab terhadap urusan produksi
· Melakukan koordinasi dan kontrol terhadap produksi
· Membuat laporan-laporan dibidang produksi
· Bertanggung jawab pada direktur utama
6. Bagian Gudang
· Bertanggung jawab terhadap masuk dan keluarnya barang yang ada digudang
· Bertanggung jawab pada manajer produksi
· Melakukan pencatatan mutasi persediaan kedalam buku gudang
· Melakukan penyesuaian antara hasil penghitungan fisik persediaan dengan buku gudang
7. Bagian Produksi
· Bertanggung jawab pada manejer produksi
· Bertanggung jawab akan jalannya produksi pada perusahaan
8. Bagian Pembelian
· Bertanggung jawab pada manejer produksi, manejer administrasi dan keuangan
· Melakukan pembelian yang diperlukan oleh perusahaan.
9. Manajer Administrasi dan Keuangan
· Bertanggung jawab atas administrasi dan keuangan perusahaan serta membuat laporan keuangan perusahaan
· Melakukan administarasi dan kontrol terhadap staff administarasi dan keuangan
· Melayani dan memproses administrasi kepegawaian
· Bertanggung jawab pada direktur utama
10. Kasir
· Bertanggung jawab pada manejer administrasi dan keuangan
· Bertanggung jawab akan masuk dan keluarnya uang yang ada dalam perusahaan
11. Manajer Pemasaran
· Melaksanakan kegiatan dan pengembangan bidang pemasaran
· Menyusun anggaran dan melakukan kegiatan perusahaan
· Membentuk team pemasaran, mencari dan memperluas dorongan pemasaran
· Membuat laporan hasil pemasaran
· Bertanggung jawab pada direktur utama
12. RSM (Regional Sales Manajer)
· Bertanggung jawab atas daerah atau wlayah pemasaran yang sudah menjadi tanggung jawab tiap RSM
· Mengkoordinasi dan mengontrol terhadap jajaran pemasaran tiap daerah atau wilayah
· Menyusun anggaran dan melakukan kegiatan pemasaran di daerah pemasaran yang menjadi tanggung jawabnya
· Membentuk team pemasaran di daerah pemasaran yang menjadi tanggung jawabnya
· Membuat laporan hasil pemasaran tiap wilayah atau daerah
· Bertanggung jawab pada manajer pemasaran
13. FM atau Field Manajer (Manajer Kantor Cabang)
· Bertanggung jawab atas semua kegiatan yang terjadi di kantor cabang
· Melakukan koordinasi dan mengontrol setiap sales yang menjadi tangung jawabnya
· Membuat laporan-laporan yang berhubungan dengan kegiatan kantor cabang
· Bertangung jawab pada RSM dan manajer administrasi dan keuangan
· Mengirimkan laporan kegiatan penjualan yang terjadi di kantor cabang kepada staff administrasi kantor pusat
14. SR (Sales Representative)
· Mencari konsumen dan memperkenalkan produk kepada konsumen
· Melaporkan hasil penjualan kepada FM
15. Staff Administrasi
· Menangani seluruh aktivitas perusahaan
· Membuat laporan atas aktivitas yang terjadi di perusahaan
· Menerima laporan penjualan dari kantor cabang / FM
· Bertanggung jawab pada manajer administrasi dan keuangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar